Senin, 10 Maret 2014
Slow-learner,
adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu
yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf
intelektual yang relatif sama. Slow-learner adalah anak dengan tingkat
penguasaan materi yang rendah, padahal materi tersebut merupakan prasyarat bagi
kelanjutan di pelajaran selanjutnya, sehingga mereka sering harus mengulang
(Burton, dalam Sudrajat, 2008). Kecerdasan mereka memang di bawah rata-rata,
tetapi mereka bukan anak yang tidak mampu, tetapi mereka butuh perjuangan yang
keras untuk menguasai apa yang diminta di kelas reguler. Slow-learner adalah
istilah yang sering digunakan bagi anak-anak dengan kemampuan rendah, dengan IQ
antara 70 dan 85, ada juga yang mengatakan antara 80 dan 90, dan keadaan ini
berlangsung dari tahun ke tahun. Anak-anak seperti ini mengisi 14,1 % populasi,
lebih besar daripada kelompok anak dengan learning disabitilies, retardasi
mental dan autis yang disatukan. Anak yang demikian akan mengalami hambatan
belajar, sehingga prestasi belajarnya biasanya juga di bawah prestasi belajar
anak-anak normal lainnya, yang sebaya dengannya.Mereka dapat menyelesaikan SMP,
tetapi mengalami kesulitan di SMA. Slow-learner dapat diartikan anak yang
memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tuna
grahita (retardasi mental). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau
keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih
jauh lebih baik dibanding dengan yang tuna grahita, lebih lambat dibanding
dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk
dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun nonakademik, dan karenanya
memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Slow-learner sulit untuk diidentifikasi
karena mereka tidak berbeda dalam penampilan luar dan dapat berfungsi secara
normal pada sebagian besar situasi. Mereka memiliki fisik yang normal, memiliki
memori yang memadai, dan memiliki akal sehat. Hal-hal normal inilah yang sering
membingungkan para orangtua, mengapa anak mereka menjadi slow-learner. Yang
perlu diluruskan adalah walaupun slow-learner memiliki kualitas-kualitas
tersebut, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas sekolah sesuai
dengan yang diperlukan karena keterbatasan IQ mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar